Saat ini gw ngontrak rumah berdua. Supaya gak disangka kumpul kebo, gw sengaja ngontrak tu rumah bareng cowok. Parto namanya (tentu aja bukan nama asli). Anak Jakarta keturunan Klaten, yang kualitas tampangnya tentu aja sangat jauh dibawah gw (Njisss… narsis). Kita ngontrak sebuah rumah berlantai dua, dimana lantai dasar jadi daerah kekuasaan gw, lantai atas daerah kekuasaan dia.

Kita saling berbagi dalam berbagai hal. Kulkas, dapur, tempat cuci piring, mesin cuci, dan garasi terletak di wilayah kekuasaan gw (ya iyalah, mana mungkin garasi di tingkat dua?). Sementara tempat jemur baju, meja makan, dispenser dan gudang terletak di wilayah kekuasaan si Parto. Untung kamar mandi ada di kamar masing-masing, jadi gak perlu saling berbagi.

Hari Sabtu ini, gw ngabisin siang-sore di luar rumah. Tadinya gw mau keluar sebentar makan siang di salah satu warung nasi padang langganan gw. Taunya keterusan nongkrong ama si uda warung, maen catur beberapa ronde. Hasilnya? Tentu aja kekalahan bertubi-tubi buat gw.

Menjelang magrib gw pulang ke rumah. Gak ada yang berubah dengan rumah kontrakan ini. Lantainya tetep berdebu, kamar gw tetep berantakan, dan pintunya tetep warna pink. Gw haus. Sayup-sayup gw denger musik oldies kegemaran si Parto di lantai dua, menandakan bahwa dia lagi ada di kamar. Dengan langkah gontai, gw ke lantai atas untuk ngambil air minum sekaligus berbasa-basi dengan mahluk yang tidak oke itu.

Minum segelas air mineral dingin dari dispenser emang menyegarkan. Selanjutnya, tanpa basa-basi gw langsung masuk ke kamar si Parto. Eng ing eeeennnnngggggg…….

Ichanx : Uppssss….. (terbelalak kaget dan salah tingkah).
Parto : Weksss….. (kaget juga dan secara reflek mengeluarkan ungkapan kaget berbahasa bebek).
Seseorang : (shock, memalingkan muka, mengambil selimut).
Ichanx : (Berusaha bersikap tenang) Mmm… Ada koran Kompas baru bos?
Parto : (Salah tingkah) Ini, ambil aja…. (Menyerahkan koran Tempo edisi tiga hari yang lalu, sambil mengedip nyuruh gw keluar).
Ichanx : Oh iya… Thanks (gw mengangguk mengerti dan melangkah keluar).

Di luar kamar, gw baru sadar bahwa yang gw pegang bukanlah Kompas edisi hari ini. Terpaksa gw balik lagi….

Ichanx : Parto, ini Tempo bukan Kompas.
Parto : Weksss….. (serasa Dejavu).
Seseorang : (shock, memalingkan muka, mengambil selimut… Dejavu lagi).
Parto : Anggap aja Kompas (dengan muka marah).
Ichanx : Tapi itu Kompas-nya… (gw nunjuk ke arah “seseorang” yang menggunakan koran incaran gw sebagai penutup bagian tubuhnya yang sesungguhnya udah ketutup ama selimut).
Parto : Oh… Sori…. (menjawab pasrah). Sekalian kenalin, cewek gw Inem (bukan nama sebenarnya).
Ichanx : Halo Inem, met kenal… (gw menyapa ramah dan menjabat tangannya). Pinjem korannya ya….
Inem : Inem (jawabnya lemas dan menyerahkan koran yang lagi dipegangnya).
Ichanx : Siiip… Sori ngeganggu ya… Silahkan lanjutkan….

Gw melangkah keluar kamar dengan tenang tanpa rasa bersalah. Sedetik kemudian gw denger suara pintu dikunci dan si Parto berteriak dari dalam kamar “NJING!! JANGAN KE KAMAR GW LAGI!!!!”.

Related posts:

  1. Gw Pria Normal
  2. Ichanx Dipenjara
  3. Cari Rumah Kos Di Jakarta…
  4. Curcol Saat Ini
  5. Pria Itu Bertampang Mesum
  6. Beri Aku Celana Dalam
  7. Majikan Kejam
  8. Candu Itu Berbahaya
  9. Foto Selebritis Di Koran Pikiran Rakyat