Oke… Oke… Ini postingan latah… Saat hampir bersamaan, gw yakin ratusan, bahkan ribuan blogger akan mengangkat tema fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga yang baru diumumkan di Forum Ijtima ulama Komisi III Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III di Padang Panjang Sumatera Barat. Gw ingin coba bahas ini dari perspektif gw yang perokok berat, sekaligus pencinta cewek cantik. Eh, gak ada fatwa yang berhubungan dengan cewek cantik ya?

Bagaimana pandangan si gw tentang fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga? BINGUNG! Sumpah! Ini fatwa banci!

Dari semua fatwa MUI yang pernah muncul, baru fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga ini yang bener-bener ngebingungin. I mean, meskipun fatwa-fatwa sebelumnya banyak yang “janggal” juga, tapi fatwa-fatwa itu masih bisa diterima dengan akal sehat kalo kita berfikiran logis dan berusaha melihat dari sudut pandang agama, serta tidak memposisikan kita sebagai pihak yang udah antipati dulu terhadap MUI.

Let say… Fatwa MUI tentang bunga bank haram. Ini make sense! Meskipun gw sempet kerja di bank, dan punya rekening bank, tapi gw gak merasa aneh dengan fatwa itu. Secara, bank kan bener-bener menjalankan prinsip riba yang sangat ditentang oleh agama mana pun (kecuali yahudi – ajaran yahudi memperbolehkan riba kepada orang non yahudi -). Atau, fatwa MUI tentang infotainment haram. Ini juga make sense! Meskipun gw seneng nonton infotainment, tapi gw tau bahwa kerjaan tivi mencari duit dengan membuka aib pribadi seseorang di muka umum adalah perbuatan dosa. Bahkan bisa menjurus fitnah. Atau, fatwa MUI tentang aliran sesat. Masih masuk akal, meskipun gw punya banyak temen yang ternyata menganut “aliran sesat” itu, tapi memang tugas para ulama untuk membimbing umatnya biar gak terjebak ke yang “sesat” menurut pendapat mainstream ulama. Meskipun semua fatwa itu menimbulkan perdebatan, tapi semua itu MASUK AKAL.

Lah, sekarang gimana dengan fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga?

Nah, masalah bikin gw bingung…. Kok FATWA HARAM ROKOK malah dibuat ngambang gitu sih? Rokok haram buat anak-anak, remaja, dan ibu hamil. Untuk orang dewasa, rokok difatwakan sebagai makruh selama enggak dilakuin di tempat publik. Terus, mengenai fatwa haram yoga, disebutkan bahwa yoga yang mengandung meditasi, murni ritual, dan spiritual agama lain hukumnya haram. HALOOOO….. ASSALAMUALAIKUM PAK HAJIIIIII….. FATWA APAAN INI????

Anak-anak. Anak-anak itu belum akil baligh! Belum horni kalo liat cewek telanjang! Belum punya otak korupsi kayak Suharto dan kroninya! Belum ada dosa buat mereka! Kalo rokok difatwakan haram untuk anak-anak, maka yang nanggung dosa siapa? Nyokapnya? Lah, kalo si anak curi-curi ngerokok pas pulang sekolah gimana? Salah gurunya? Salah pedagang? Arrgghhhh… Terus, Ibu hamil. Jadi, pas si ibu menyusui, dia boleh ngerokok gitu? Sama aja kali! Arrgghhh… Pusing… Ini ngebingungin….

Lalu, tentang yoga. Haduh. Kok kesannya latah ama fatwa ulama Malaysia sih? Ini rancu! Kenapa gak sekalian fatwanya dibuat sesuatu yang tegas, misalnya “SEGALA SESUATU YANG BERSIFAT MEDITASI, RITUAL, dan MENGIKUTI SPIRITUAL AGAMA LAIN adalah HARAM“. Sebut beladiri deh… Silat kek… Kung Fu kek… Macem-macem… banyak banget yang pake ritual dan meditasi ala agama lain, bahkan ala animisme. Penyebutan “yoga” secara spesifik kan bikin orang yang beneran ber-yoga tanpa embel-embel ritual jadi bingung!

Lucu. Ini bener-bener lucu. Kok kesannya fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga ini malah maen-maen ya? Gw udah berikrar, setidaknya ke keluarga dan para plurker, gw udah ngumumin kesiapan gw untuk berhenti total ngerokok kalo MUI mengeluarkan fatwa haram rokok. Sebaliknya, gw bakal terus ngerokok kalo para ulama yang gw yakinin ngerti ilmu agama puluhan kali lipat lebih jago dari gw yang shalatnya aja masih bolong-bolong, menyebutkan bahwa rokok enggak haram. MUI itu kumpulan ulama yang gw jadiin panutan, perwakilan dari berbagai ormas, kelompok, dan golongan. MUI bukan kumpulan ulama dan ahli agama keblinger kayak orang-orang JIL yang bener-bener kebablasan dalam berijtihad atau orang-orang Salafiyah yang taklid buta dan paling seneng nyebut pendapat orang lain sebagai bid’ah bahkan sesat.

Di satu sisi, dengan keluarnya fatwa ini gw harusnya ngerasa tenang karena (menurut pendapat ratusan ulama itu) kebiasaan gw ngerokok gak dimasukin kategori haram. Jadi gw bisa tetep ngerokok seperti biasa. Tapi, di satu sisi, gw jadi bingung. Ini fatwa atau apaan sih?

Kenapa sih gak sekalian aja sebut ROKOK ITU HARAM, atau ROKOK ITU MAKRUH/MUBAH? Implikasinya tentu simalakama bagi MUI. Disebut haram, para perokok dan orang yang bergerak di bisnis rokok bakal ngamuk. Gak disebut haram, KAK SETO SI PENYAYANG ANAK dan para aktifis anti rokok juga ngamuk. Lah, what’s the hell implikasinya, harusnya MUI tegas! Kalo masih belum mateng, masih berdebat di dalem MUI sendiri, ya jangan dipaksain untuk ngeluarin fatwa dong!!! Jangan bikin fatwa banci kayak gini!!!!! Jangan bikin umat bingung!!!!!

ps : Sori, postingan ini di luar kebiasaan. Tapi gw lagi gemes ama MUI. Fatwa haram rokok dan fatwa haram yoga ini otomatis makin ngejatuhin wibawa MUI di masyarakat. Gw sedih kalo ulama yang gw cintai jadi bahan ketawaan. :(

Related posts:

  1. Candu Itu Berbahaya
  2. Musik Yang Murah dan Halal
  3. Rokok Diambang Kepunahan
  4. Bahaya Rokok dan Bahaya Fast Food
  5. Bahagia dan Sedih – Batasnya Tipis
  6. Anti Rokok? Lebay Kalian!!!
  7. Kantor Baru dan Masuk Angin
  8. Kembali Ke Pedalaman
  9. Teroris Gaya
  10. Curcol Saat Ini